Thursday, October 8, 2020

Reality Check

Ah, aku sudah lupa mimpi apa semalam. Padahal aku ingin menjadikannya pembuka postingan kali ini.

Menjelang siang tadi aku terbangun dan mendapati gawaiku tanpa energi. Setelah kunyalakan, usap sana usap sini sembari menunggu nyawa siap diajak pergi (kerja). Aku mendapati kabar yang sepertinya gembira untuk orang yang aku ikuti. Aku cukup terkejut, agak tidak percaya, tapi aku senang karena dia masih melanjutkan hidup. Kemudian aku mandi dan bersiap untuk hari ini. Namun, rasanya aneh. Aku merasa sedih. Merasa hidup ini tidak adil. Air terasa dingin dan busa terasa fana. Terdengar seperti aku melebih-lebihkan, ya? Coba yang ini. Tanpa terasa sudut mataku terasa hangat. Setetes air mata turun dari sana, lambat, selambat guliran jariku ketika sedang di dunia maya. Tersendat, terasa berat. Apakah ini air mata yang pekat? Sebelum makna menghampiri benak, segayung air menderu, menghempasnya layaknya realita. Dia tersapu, membisu.

The stress that I felt while telling myself not to be stressed was a total perpetual terror. I thought a single condensed tear was already pathetic, even unrealistic, but a hysterical cry was worse. Eh, but those two expressed rather different feelings, so maybe I shouldn't be comparing them both. Might as well stop comparing myself to others. This time I had caused my coworker a late lunchbreak. Sheesh. Being late because I had to calm myself down never happened before.

I am the one to blame, aren't I? Tapi, kenapa harus aku? What did I do wrong?

Wednesday, September 23, 2020

Aku, Buku, dan Kamu

Rabu, 23 September 2020

        Selamat sore, Blour. Kembali lagi bersama saya dalam tantangan menulis 30 hari yang tersendat-sendat. I am your one and forever author, Faiz Mahfudz, kali ini saya akan menulis tentang my favorite book. To be honest, I don't read a lot of books. Not that I don't want to, but every time I read, I immediately switch to power saving mode, even just a page and I will sleep in no time. Ehm. Aku salut kepada orang-orang yang bisa membaca dengan senangnya, tanpa rasa kantuk dan distraksi lainnya. Sepertinya aku pernah mencuitkan kalimat tadi. Why? Aku juga ingin bisa merasakan kenikmatan dalam literasi.
        Sejauh ini, buku yang selesai aku baca hanya dua...sepertinya...Eragon dan Call Me by Your Name. Aku meminjam novel Eragon dari teman SMAku dan aku selesai membacanya dalam tiga bulan ahahaha. Aku pun tertarik membacanya setelah menonton filmnya di televisi. Like wow, I really hope that there will be sequels like the books, but I dunno, doesn't look like there will be any 😔 Saat membaca, ada kalanya aku mengulang dari awal karena aku lupa cerita sebelumnya. Aku juga membaca sembari membayangkan karakter dan latar yang diceritakan, jadi lebih lama. Bayanganku cukup terbantu dengan visualisasi yang aku peroleh dari film. Kemudian, berbeda dengan Eragon yang bergenre fantasi dan petualangan, CMBYN adalah novel drama romansa. Yup, aku tertarik membaca bukunya karena aku begitu menyukai filmnya. Mulai dari teaser, official trailer, kesedihan saat tidak lulus tayang di Indonesia (we been knew), sampai akhirnya aku bisa menulis review singkat wkkwkw. Tentu saja, seperti saat aku menonton filmnya, I am devastated after reading the book, I mean e-book. Now I have two other books, Xenoglosophilia (it's almost two years since I bought it lol and I haven't finished it) and Filosofi Teras, a  birthday present from my ex which I haven't even started.
        Eh! I forgot. I did read other books! Sewaktu SMA aku ada tugas untuk menulis mmmm ringkasan? atau resensi ya? Sepertinya ringkasan...novel berbahasa Inggris (tugasnya Ms. Tri itu guys). I picked By the Shores of Silver Lake, pinjam di Perpustakaan Jefferson a.k.a Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Prov. DIY bersama mantan (yang lain). Saat itu masih masa-masa pendekatan malah wkwkkw. Anyway, novel itu menceritakan tentang perjalanan sebuah keluarga yang pindah saat sang ayah mendapatkan pekerjaan. Kata guruku sih ceritanya agak membosankan karena (memang) konfliknya sedikit, saat aku membacanya juga disertai rasa kantuk. It was not really a good choice for that assignment, karena aku jadi harus memutar otak cukup jauh agar bisa memenuhi format tugasnya. Ah, seandainya aku sedang ada di rumah, ingin kufoto dan kuunggah di sini tugasnya.
        Buku satu lagi adalah novel remaja(?) atau kumpulan cerita ya? Lupus. Aku lupa judul lengkapnya, tapi aku meminjamnya dari perpustakaan sekolah saat aku masih duduk di bangku SMP, sepertinya bergenre komedi. Aku hanya ingat aku sering menahan tawa saat perjalanan pulang (naik bus). Novel itu menemaniku untuk beberapa hari antara Jogja dan Seyegan (ciaaaa). Dalam buku itu banyak sekali lelucon garing yang kuanggap sangat lucu kala itu (now I know where my cheesy sense of humor came from).
        Oke, sepertinya itu dulu cerita antara aku dan buku. Favoritku? Seperti halnya para mantan, masing-masing buku memberikan kesan tersendiri padaku. Kalau misal aku masih sayang, ngapain udahan? #lamismodeon #fucekboy #soklaku TIDAAAK TIDAK, bercanda sayang~~~ 🙈 Biar adil aku bikin honorable mention saja:
Another fantasy-adventure novel. Sepertinya kepunyaan ibuku.
Novel pertama yang kubaca dalam bahasa Inggris.


Genre teenlit(?). Punya kakak perempuanku.
Novel pertama yang kubaca dalam bahasa Indonesia.


Sunday, September 20, 2020

YOOOOO I'M BACK

Minggu, 20 September 2020

        Halo, Blour, ketemu lagi haha. Setelah berhari-hari aku tidak menulis, do you miss me? Haha. Ternyata susah juga konsisten untuk menulis setiap hari. Padahal sudah setengah jalan untuk menjadi rutinitas. Maybe I do need to take breaks, but was it too long? Jadi sudah sampai di mana kita? Hari ke-12, my favorite TV series. Can I do anime? Of course. As long as it is a series right. Sebelumnya aku mau menulis antara f.r.i.e.n.d.s atau How I Met Your Mother, tapi karena baru tadi aku menonton Sword Art Online War of Underworld Season 2 Ep. 11, how about anime instead? Bukan SAO sih yang mau aku tulis, melainkan Ansatsu Kyoushitsu atau Assassination Classroom.
The poster (source: https://myanimelist.net/anime/24833/Ansatsu_Kyoushitsu)
        Ansatsu ini series tahun 2015-2016, ada dua season. Menceritakan tentang kemunculan sesosok alien yang menghancurkan 70% bulan. He was like really OP (over-powered) and he then declared to destroy the earth as well. Strangely, he gave citizen of earth the chance to kill him with all of their might within a year. And um...ada SMP Kunugigaoka yang murid-muridnya ditempatkan dalam kelas berdasarkan nilai, urutan paling bawah adalah kelas E. Sepertinya karena murid-murid kelas E ini dipandang tidak memiliki masa depan yang bagus, akhirnya...alien ini...menginginkan untuk.....menjadi...guru mereka........😶I wasn't really feeling this when I watched it, but it does sound weird now ahahahahha😅 tonikaku, I don't really mind. The show was entertaining, not too slow, not too fast. I can simmer myself in the story too (yes, I did cry like a baby in some episodes).
        Why this anime? Because it portrayed an ideal teacher image. How he personalized his way of teaching based on each students. How he spotted their strengths and weaknesses. Too perfect that I think it is not possible to exist. I am completely mesmerized. Somehow this anime encourages me to be a teacher as well. In addition to that, this anime also has ridiculous scenes like WTF kampret :)))) I like it. I think there is also a live action, but I haven't watched it.

Friday, September 11, 2020

A Sincere Wish on the Third Paragraph

Jumat, 11 September 2020

Selamat sore, Blour. Kali ini aku akan menulis tentang saudara kandung. Would this be another post of me ranting? Mungkin saking kurusnya, aku terlihat seperti itu *krik* haha. Gimana sih rasanya punya saudara kandung? Suka tidak suka menurutku. Senang karena ada teman bercerita, ada lungsuran barang, kadang juga ditraktir. Namun, karena aku anak terakhir, so pasti sering dibully, disuruh-suruh, dan kadang dianggap paling tidak tahu apa-apa. Memang ada benarnya, tapi tidak selalu. Habisnya kalau tanya, kadang malah kesannya diremehin. Kan jadi malas bertanya. Tapi nanti kalau tidak tahu, kok nggak tanya ceunah. Yaudahlah ya, mending tidak usah. Tapi yah, they say family will always be there, kan.

Despite the bittersweetness, I won't deny that I learned from them too and be who I am today. Aku bisa membaca, yang mengajari kakak perempuanku. Aku kenal game dari kakak laki-lakiku. Aku juga belajar dari pengalaman-pengalaman mereka, cerita-cerita mereka. Aku juga diingatkan dengan tegas apabila sikapku tidak sesuai dengan situasi. Can I repay them, tho, I wonder? Be a good brother.

Ah I wish that my life would be just fine, so I don't need to bother them with my problems. I want them to live their lives.

Terima kasih kepada gawaiku yang tiba-tiba keyboardnya tidak bisa berfungsi sehingga tulisan yang sudah selesai (belum sempat disave, baru memilih label/tags) harus hilang.

Thursday, September 10, 2020

Unspeakable Timeskip

Kamis, 10 September 2020

        Hey, Blour! Should I write or mention my best friend(s) here? Apa tidak terlalu banyak? Hahaha. Nggak sih, aku cuma punya beberapa sahabat saja. Tapi biarkan aku menulis satu saja ya, please, kalian yang tidak kusebut di sini tolong jangan coret aku dari daftar pertemanan kalian u,u Karena ini sudah pukul 11.18 WIB, mohon dimaklumi kalau saya tidak bisa menulis banyak. Ini saja aku tidak yakin bisa selesai sebelum berganti hari, tapi akan saya coba.
        Who is my best friend? Siapa lagi kalau bukan, Mono. Ealah, Mon. Kamu geli nggak baca ini? Atau kamu merasa tersipu malu? Ah pasti iya, aku tahu hahaha. He is by far the only person who knows me better than anyone else meskipun sepertinya aku tidak mengetahui dia lebih baik dari orang lain teman macam apa aku ini? tentu teman yang tidak tahu diri ahihihi. There are things that he doesn't know about me tho, because I feel like, I still need a privacy for myself. Kita pernah ngobrolin ini saat masih SMA, inget nggak? And I also respect his privacy too. Kalau dia mau cerita ya monggo I will listen, kalau tidak ya, aku tidak memaksa kecuali kalau dia terlihat seperti ingin dikorek wkwkwk.
        Pertama kenal gimana? monmaap ini malah kayak acara reality show Ya, dulu kenal pas satu kelas pendalaman materi. Kemudian dari pencarian sarung tangan, long story short, sampai sekarang (timeskip 10 tahun). Pernah berantem? Tidak hanya berantem lagi, Blour, pernah sampai tidak kenal satu sama lain saat kuliah. Punya kehidupan sendiri-sendiri, drama-drama💩(mohon maaf kepada berbagai pihak yang terkena dampak), tapi siapa sangka? Setelah semua itu, kami bisa tetap berteman, maybe even closer than before and I actually feel grateful about that. Because I'm telling you, I am a shitty friend. Kadang aku terlalu egois, mau enak dan menang sendiri, but I'm trying to be a friend worth cherising, so....yeah.... *awkward smile*
        Apa yang membuatku dulu mencoba reaching out lagi? Karena aku berpikir dan merasa aku akan menyesal jika kehilangan seorang teman --so dear to me-- for whatever reason started the gap. Padahal kami banyak hal in common. So, yeah, I am glad I reached out that time. Iya kan? Aku yang gerak duluan kan ya? Tapi ya tidak akan bisa sampai sekarang kalau dia tidak memperbolehkannya. Mungkin karena perselisihan yang dulu terjadi pula, kami bisa sampai sekarang. Entahlah, mungkin memang seharusnya melewati fase itu.
        Oke deh, agak lewat beberapa menit karena harus mencari foto ikonik dulu :)) Sebagai penutup, kepada pihak-pihak yang terlibat, tolong jangan bully saya, aku mutungan 😠 wkwk. Peace, love, and gaul ✌
foto ikonik yang dimaksud (2014)

Wednesday, September 9, 2020

happiness?

what would be my happiness?

be able to show my affection to whomever I want without guilt of feeling unfair to others.
be appreciated.
be healthy.
be myself.
feel safe.
finish something.
have stable appetite.
mind my own business without getting the judgement as an uncaring person.
...
not get disturbed by mosquitoes, flies, and cockroaches.
not become a burden to anyone.
not causing trouble to anyone.
not losing chances, maybe.
...
...
...
trust someone...

without fear of getting betrayed.


I wonder why happiness could be so easy, yet sometimes it could be exhausting.

I never meant ill to anyone, tried my best to say the least. Is it not enough?
Is it too much, to ask for the same?

Tuesday, September 8, 2020

Untitled Track

Selasa, 8 September 2020

        I'm gonna dedicate this post to every music, every song that has given life to my barren self. Gravity by Sara Bareilles, Grow As We Go by Ben Platt, Cloud Atlas Sextet, Randevu by Dharma, Eulogy for Evolution Album by Ã“lafur Arnalds, Sentimental by Julian Velard, Adele, Ariana Grande, Blackpink, Red Velvet, Twice, As Long As I Have Music, and other masterpieces that I might not recall right now. The power of music is indeed amazing. Mereka bisa membantuku meluapkan emosi, menenangkan diri, bahkan menjadi motivasi. Terkadang mereka juga bisa membuatku tenggelam dalam kelabu. Ah...sepertinya tidak begitu positif ya, tetapi rasanya sedihku menjadi lebih cepat selesai setelah mendengarkan lagu-lagu sedih. Aku masih ingat pernah menangis di jalan ketika hujan karena singing along pada sebuah lagu...mmm Fireflies by Owl City.
        Kenapa ya, orang-orang bisa memainkan alat musik? Atau kenapa ya, suara mereka bisa jernih? Aku iri, serius, tapi aku juga kagum. Rasanya ingin hangout terus bersama mereka, bernyanyi diselingi deep talks mengenai makna dan tujuan hidup. Pasti menyenangkan. Serasa melupakan kenyataan dan pasti terkenang. Terkenang...kenangan. Ehm. Blour, selain aroma, menurutku suara juga berkaitan erat dengan memori. Ketika mendengarkan sebuah lagu, bisa teringat peristiwa yang lalu. Senang dan berbunga, malu yang membisu, bahkan bekas luka yang kembali lara *sigh* Itulah mengapa aku iri dengan mereka yang berbakat di bidang musik. Mereka bisa dengan bebas memutar memori, lagi dan lagi, bahkan ketika sendiri.